Suatu bangsa yang besar adalah bangsa yang mengerti dan memahami sejarah perjuangan bangsa dan pendirinya. Sehingga kemudian bangsa itu faham tentang cita-cita dan mampu meletakkan diri serta berperan didalamnya. Maka Uswatun Hasanah akan besar jika para civitas akademikanya mau faham tentang sejarah perjuangan Pondok Pesantren.
Sehingga bisa memasuki roh perjuangan itu, faham kemana akan melangkah dan tidak bingung mau berbuat apa untuk kemajuan almamater. Perjalanan suatu Pondok Pesantren identik dengan perjuangan pendiri Pondok Pesantren itu sendiri. Melalui sejarah singkat ini kami paparkan sejarah dari Yayasan Pondok Pesantren Uswatun Hasanah Cempaka Putih. Kira-kira 35 tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Februari tahun 1970/Dzulhijjah 1389 H, didusun Cempaka Putih yang sunyi, dimana rumput-rumput ilalang masih tumbuh dengan hijaunya dan daun-daun masih tergantung kuat pada pohon-pohon yang rimbun. Atas ajakan masyarakat sekitar Dusun Cempaka Putih, yaitu dusun Repok Puyung, Gubuk Repok dan Lendang Randu, Pimpinan Pondok Pesantren membentuk majlis ta'lim untuk menampung minat belajar agama masyarakat terutama sekali anak-anak muda dengan jumlah santri pertama pada waktu itu sebanyak 46 orang. Untuk pertama kalinya para santri belajar pada sebuah bangunan surau lantai tanah atap alang-alang ukuran 5m x 5m. bangunan itulah yang ditempati sholat jamaah oleh masyarakat Cempaka Putih yang pada waktu itu penduduknya + 22 kepala keluarga.
Sehingga bisa memasuki roh perjuangan itu, faham kemana akan melangkah dan tidak bingung mau berbuat apa untuk kemajuan almamater. Perjalanan suatu Pondok Pesantren identik dengan perjuangan pendiri Pondok Pesantren itu sendiri. Melalui sejarah singkat ini kami paparkan sejarah dari Yayasan Pondok Pesantren Uswatun Hasanah Cempaka Putih. Kira-kira 35 tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Februari tahun 1970/Dzulhijjah 1389 H, didusun Cempaka Putih yang sunyi, dimana rumput-rumput ilalang masih tumbuh dengan hijaunya dan daun-daun masih tergantung kuat pada pohon-pohon yang rimbun. Atas ajakan masyarakat sekitar Dusun Cempaka Putih, yaitu dusun Repok Puyung, Gubuk Repok dan Lendang Randu, Pimpinan Pondok Pesantren membentuk majlis ta'lim untuk menampung minat belajar agama masyarakat terutama sekali anak-anak muda dengan jumlah santri pertama pada waktu itu sebanyak 46 orang. Untuk pertama kalinya para santri belajar pada sebuah bangunan surau lantai tanah atap alang-alang ukuran 5m x 5m. bangunan itulah yang ditempati sholat jamaah oleh masyarakat Cempaka Putih yang pada waktu itu penduduknya + 22 kepala keluarga.
Institusi yang sangat sederhana itu mengkhususkan diri dalam bidang pendidikan Diniyah Islamiyah khususnya bidang pelajaran Ilmu Nahwu Shorf, Tauhid, Fiqh, Ilmu Hadits, al Qur'an, Manthiq dan Balaghah. Khusus Ilmu Nahwu Shorf digunakan metode pembelajaran yaitu "Metode Sendiri" yang terus dipakai sampai sekarang dan terbukti dapat difahami dan dimengerti oleh para santri, khususnya santri di Pondok Pesantren Uswatun Hasanah. Masyarakat ternyata sangat serius dengan ajakan tersebut, terbukti pada saat itu juga majlis ta'lim yang ada meramaikan Madrasah Diniyah Tersebut. Akhirnya pimpinan muda itu membangun rumah tempat tinggal yang sangat sederhana dari bata mentah berukuran + 8m x 7m, setengahnya dipakai untuk menampung santri yang jumlahnya semakin banyak. Santri-santri pertama tersebut kemudian membentuk pondok-pondok kecil dari bedek (bambu) sebagai tempat tinggal mereka.
Santri-santri waktu itu kebanyakan dari anak-anak yang tidak pernah mengikuti pendidikan formal, sedangkan sebagiannya putus sekolah. Mereka kebanyakan menginap, karena sehabis sholat subuh mereka ngaji lagi. Biasanya sebelum tidur mereka bergiliran membawa cerita bagi teman-temannya. Ada cerita-cerita rakyat yang lucu-lucu disamping ada pula yang serius. Pada hari-hari besar agama terutama waktu maulid mereka adakan acara musabaqah, cerdas cermat dan lain-lain. Mereka membuat drama yang lucu-lucu jadi tontonan. Disamping mengurus santri yang belajar pada majlis taklim yang telah didirikan di Cempaka Putih Pimpinan Pondok juga membuka program diniyah dibeberapa desa dan di kelola oleh santri Uswatun Hasanah. Dan disamping juga beliau mengabdikan ilmunya ditempat lain dengan menjadi guru di PGA (Pendidikan Guru Agama) Sengkol Mantang Batukliang Lombok Tengah sampai November 1973.
Pada tahun 1971 sambil menuntun masyarakat, pimpinan pondok juga mencari tuntunan dengan cara belajar ilmu-ilmu agama pada al Maghfurlah TGH.Moh.Thoyyib yang berdomisili didusun Jantuk Desa Mantang Kecamatan Batukliang Lombok Tengah, dan kemudian dipercaya menjadi asisten dalam pengajian umum khusus asuhan beliau. Pada tahun yang sama pula, beliau diajak menjadi anggota Majlis Ulama Indonesia (MUI) tapi beliau tolak. Meskipun demikian ia tetap dianggap anggota MUI. Jumlah santri yang semula 46 orang tersebut bertambah menjadi 78 orang dan tentunya surau yang berukuran 5m x 5m tidak lagi mampu menampung jumlah santri tersebut. Maka pada tahun itu juga dibangun surau dengan ukuran 10m x 10m2, namun aktivitas belajar santri pada tahun itu harus terganggu oleh bau bangkai yang mengganggu proses belajar mengajar. Pada tahun 1972 dibangun sebuah bangunan semi permanent dengan ukuran 25 x 7,5 m2 yang terbuat dari bata mentah, terbagi dalam 3 ruang kelas dan harus menampung lebih dari 100 orang santri. Pada tahun ini pula dikembang system yang terus dipakai sampai sekarang yaitu "Sistim Tutor Sebaya". Aktivitas pimpinan pondok dalam membina dan membimbing santri tidak lepas dari intimidasi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan cara melempari sekolah dengan batu dan ditaruhkan kotoran dalam ruang belajar, tetapi semua intimidasi tersebut dianggap sebagai cobaan dari Allah SWT dan aktivitas belajar terus berlangsung seperti biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Intimidasi serta teror dan pengerusakan sekolah terus berlanjut sampai tahun 1973. intimadasi semakin gencar dan ditambah lagi dengan situasi politik yang tidak kondusif dimana pimpinan pondok tidak mau bergabung dengan parpol yang berkuasa yaitu GOLKAR. Dapat dibayangkan situasi pada waktu itu dimana GOLKAR yang dibeking oleh tentara dan polisi berusaha membesarkan GOLKAR dengan menghalalkan segala cara terhadap tokoh-tokoh agama, pemuda dan masyarakat yang tidak mau tunduk dan patuh pada tujuan politik GOLKAR. Hal semacam itu juga dialami oleh pimpinan pondok dengan cara segala aktivitas pengajian yang dijalankan beliau diteror dengan lemparan batu. Intimidasi dalam bentuk lemparan batu tidak hanya dirasakan diluar rumah tetapi juga pada saat beliau akan berangkat memberikan pengajian. Berbagai macam intimidasi tersebut tidak pernah menyiutkan nyali beliau dalam memberikan penerangan dan pengajaran ilmu agama pada masyarakat yang sangat terbelakang.
Berbagai macam terror dan dan intimidasi yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab tidak mengurangi minat masyarakat untuk belajar pada beliau, tetapi masyarakat dapat menilai dengan nurani mereka dan hal ini menyebabkan semakin berkembangnya panitia pengajian yang pada tahun itu sampai berjumlah 24 panitia. Seiring dengan perkembangan jumlah santri yang mengaji, maka pada tahun 1974 prasarana belajar ditambah dengan sebuah bangunan sambi (bahasa sasak) disamping bangunan semi permanent yang sudah ada. Pelajaran Diniyah (Ilmu Nahwu Shorf, Tauhid, Fiqh, Ilmu Hadits, Qur'an, Manthiq dan Balaghah) yang semula diberikan dan menjadi pelajaran pokok ditambah dengan pelajaran umum yaitu pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris meskipun secara informal.
Demokrasi yang diterapkan pemerintah tidak pernah memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk memilih partai yang sesuai dengan nurani mereka. Merasa terpanggil untuk dapat berbuat yang lebih banyak lagi bagi masyarakat pimpinan pondok bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (P3) yang merupakan fusi dari partai-partai Islam oleh Orde Baru tahun 1973, dan pada waktu itu berazaskan dan lambang Islam. Menurut Orde Baru dan lawan politiknya beliau adalah juru kampanye yang paling berbahaya di Lombok Tengah. Keputusan yang diambil pimpinan pondok ternyata membuat berang pemerintah yang berkuasa dan ini menyebabkan beliau dikejar dan diburu oleh aparat pemerintah, tetapi upaya tersebut gagal karena tidak ada alasan hukum yang jelas untuk menjerat beliau. Sementara itu majlis taklim yang didirikan beliau terus berkembang hingga pada tahun 1975 dengan jumlah santri yang belajar lebih dari 150 orang santri.
Pada tahun 1976, dibanguan sebuah gedung semi permanent berukuran 30 x 8 m2 (dibagi menjadi 4 ruang kelas), namun saat menjelang rampung, bangunan dari batu bata mentah ini dua kali dirobohkan oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Tahun ini pula merupakan tahun dimana semua OPP (Organisai Peserta Pemilu) bersiap-siap untuk mengadakan pemilu 1977. Beliau yang sudah bergabung dengan P3 terus dicarikan alasan untuk menangkap beliau dan kesempatan itu ternyata datang juga. Upaya penangkapan pertama dilakukan aparat pemerintah yang berkuasa dengan tuduhan mencuri start kampanye. Aktivitas beliau dalam memberikan pengajian bagi masyarakat tidak pernah luput dari proses sepionase aparat pemerintah dan itu terus berlangsung dari satu tempat pengajian ketempat pengajian lainnya. Akan tetapi upaya penangkapan ini gagal karena pembelaan dari TGH. Muhammad Thoyyib. Tahun 1977 pemilu Pasca Difusi partai-partai politik oleh Orde Baru berlangsung, dengan hasil kemenangan tipis (60%) GOLKAR di Lombok Tengah khususnya. Hal ini tentunya membuat program GOLKAR sebagai partai mayoritas tunggal di Legislatif pada waktu itu terhambat. Dendam Orde Baru pada beliau ternyata belum pupus. Segala yang berbau rezim seakan menjadi mata-mata yang selalu mencari-cari kesalahan atau membuat tuduhan bersalah pada beliau. Maka 35 Panitia Pengajian yang berada dibawah asuhan beliau pada saat itu diberendel Orde Baru dengan alasan "Menyebarkan ajaran Komunis Marxis yang anti Tuhan". Akan tetapi yang selalu dikenang hingga saat ini adalah dua panitia pengajian yang begitu tegar dan kokoh pendiriannya menentang pemberedelan dan terus menyelenggarakan pengajian meskipun bahaya mengancam mereka. Karena menurut mereka segala tuduhan itu tidak terbukti sama sekali dan hanya merupakan expresi dendam pemerintahan zhalim Orde Baru yang merasa terancam karena beliau tidak memihak partai politik pro pemerintah, wajar dengan pengajian tersebut dengan tinta emas dalam catatan nostalgia duka perjuangan. Kedua panitia pengajian tersebut adalah Dasan Tengak dan Dusun Tenten. Keduanya terletak di Kecamatan Batukliang bagian timur.
Ketegaran dan keberanian kedua panitia pengajian ini seakan menyusutkan roh perjuangan menentang ketidak adilan kepada yang lainnya. Maka mereka yang sebelumnya terpaksa mengikuti intimidasi pemerintah kemudian menjadi berani dan keadaan justru menjadi terbalik. Dalam suasana carut marut itu jumlah pengajian justru bertambah menjadi 48 lokasi pengajian. Pimpinan pondok dikenal sebagai santri yang demikian dekat dengan gurunya. Wajar bila TGH.Muhammad Thoyyib sangat membela muridnya yang satu ini. tetapi pada tahun 1978 guru yang sangat beliau cintai wafat dan meninggal duka yang sangat mendalam. Seiring dengan meninggalnya seorang guru yang teramat sangat beliau cintai, cobaan semakin semakin menggunung, tuduhan sebagai penyebar komunis dan ajaran sesat semakin gencar dan bertubi-tubi menampar wajah perjuangan beliau, kendaraan roda dua yang beliau tumpangi sebagai sarana menuju tempat pengajian sering menjadi obyek kendaraan roda empat dengan cara di serepet (kira-kira sampai 15 kali) tetapi selalu dipelihara oleh Allah SWT. Oleh karena itu pada tahun 1980 digunakan kendaraan roda empat sebagai sarana penunjang ketempat pengajian, itupun masih sering dilempar hingga pada tahun yang sama akibat pelemparan tersebut kendaraan ISUZU yang disewa panitia pecah kacanya akibat pelemparan ditengah jalan. Intimidasi terus berlanjut, pelemparan saat beliau dirumah dan berangkat memberikan pengajian masih terus dialami bahkan jalan yang dilalui oleh beliaupun dihadang dengan pohon randu dan juga jalan yang akan dilalui beliau digali dan dijadikan parit dan yang lebih biadab lagi jalan ditaburi sekam dan dibakar. Usaha penangkapan terhadap beliau terus berlanjut yang berujung pada usaha penangkapan kedua pada awal tahun 1981 dengan tuduhan terlibat Partai Komunis Indonesia, tetapi gagal. Selang beberapa bulan kemudian sekitar akhir tahun 1981 terjadi upaya pembunuhan secara samara yaitu dengan memasukkan racun pada makanan hingga beliau hampir meninggal. Pada tahun 1982 pesta demokrasi berlangsung (pemilu). Pemilu tahun ini juga tidak pernah luput dari intimidasi GOLKAR terhadap masa pendukung partai lain.
Setelah kejadian yang mengerikan itu, masyarakat terutama wali santri mengadakan ronda secara bergiliran. Tetapi malam hari juga datang untuk meresahkan masyarakat. Kadang-kadang yang datang adalah Danpos Ramil (waktu itu namanya Ahmad) dan Kepada Desa Aik Dareq (waktu itu namanya Lalu Paat). Petugas ronda yang dijumpai dibawa ke Sektor direndam pada sungai disebelah barat Sektor. Maka wali murid yang meronda terpaksa tidur dikebun.
Menjelang Pemilu ditiap-tiap pertigaan dan perapatan yang dilalui oleh jamaah pengajian dijaga polisi. Ditempat pengajian sering keliaran polisi dan tentara. Pernah terjadi di pertigaan yang menuju Cempaka Putih seorang polisi yang membonceng pegawai penerangan jatuh ke dalam lumpur di sawah yang akan ditanami padi. Intimidasi terhadap pimpinan pondok oleh GOLKAR melalui aparat bersenjata juga terus berlangsung, sebagian jamaah yang terpaksa menyamar sebagai pedagang es waktu pergi ngaji supaya aman. Kali ini dengan modus operasi penculikan sehingga salah seorang sahabat beliau (Bapak Muhammad Yusuf, sekarang Haji Kadariah) harus menderita luka-luka yang cukup parah dan sampai pingsan yang cukup lama disiksa oknum bersenjata karena berusaha menghalang-halangi upaya penculikan tersebut. Pertengahan tahun 1982 bertepatan dengan kebakaran yang terjadi di Padang Arofah yaitu pada malam Rabu tanggal 07 Zulhijjah 1402 H, Pondok Pesantren ini dibakar hangus. Titik api ditemukan didua tempat yaitu di atap dapur rumah beliau dan yang lainnya diatas kerbung salah seorang santri. 37 buah kerbung hangus terbakar, dan 20 buah diobrak abrik hingga hancur oleh oknum tidak bertanggung jawab. Yang lebih biadab lagi perlakuan terhadap seorang anak yatim piatu Fahruddin dari Lantan yang sedang menuntut Ilmu, dimana kerbungnya dikunci dari luar dan dia hampir menjadi abu. Bangunan sekolahpun ikut dibakar tetapi masih bisa diselamatkan walaupun satu persepuluh bagian bangunan sudah terbakar, hal ini tidak lepas dari peran serta masyarakat banyak yang menjaga bangunan tersebut. Salah seorang pelaku dengan bangga mengatakan sayalah yang membakar pesantrennya. Dibelakang saya ada pejabat yang menyuruh. Selang beberapa hari kakak dari beliau Lalu Abdul Muhith Ibrohim dipanggil aparat, dibantah karena tidak melapor dianggap menyepelekan pemerintah setempat. Akhirnya dia membuat laporan. Aparat bertanya-tanya siapa pelakunya. Dijawab kami tidak tahu. Dia dibantah lagi, kalau tidak tahu mengapa lapor?. Dibikin serba salah. Belum puas juga dengan pembakaran, lemparan batu hampir setiap hari terus berlanjut. Ruang belajar pada waktu sudah mencapai 6 ruang dengan jumlah santri lebih dari 200 orang santri. Perkembangan jumlah santri diniyahpun terus berkembang hingga 13 tempat dan sebagian ada diluar Kecamatan Batukliang seperti di Panti, Bunsalak dan Bebie.
Akhir 1982 pasca kebakaran dibangun sebuah gedung permanent berukuran 75 x 9 m2 yang terdiri dari 12 lokal (11 ruang belajar dan 1 ruang kantor), yang sekarang ditempat Madrasah Tsanawiyah atau MTs. Tahun 1983 Madrasah Diniyah resmi menjadi Pondok Pesantren Uswatun Hasanah dengan dua lembaga pendidikan formal yaitu MI (Madrasah Ibtidaiyah) dengan jumlah santri pertama 30 orang dan MTs (Madrasah Tsanawiyah) dengan jumlah santri pertama yaitu 480 orang yang bersumber dari 13 tempat diniyah ditambah dengan santri dari kabupaten lain di pulau Lombok. Karena banyaknya jumlah santri pada waktu dan tidak mampu ditampung oleh ruang belajar yang ada, maka sebagian santri menggunakan masjid sebagai ruang belajar yang disekat menjadi beberapa kelas bagian. Akan tetapi hal ini belum juga mencukupi sehingga diadakan kelas sore untuk sebagian santri.
Dalam rangka memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 38, sekitar bulan Agustus 1983 madrasah yang ada dibawah naungan Pondok Pesantren Uswatun Hasanah diwajibkan mengikuti lomba bagi para santri yang diadakan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kecamatan Batukliang dan hasilnya sangat memuaskan dimana semua mata lomba tersebut mendapatkan juara satu kecuali tennis meja dan catur mendapatkan urutan ke-3. Padahal dari Uswatun Hasanah pesertanya kelas I yang baru 6 bulan belajar di Madrasah Tsanawiyah. Dan dari Madrasah Ibtidaiyah kelas I yang baru 1,5 bulan belajar mereka harus bertanding dengan kelas III Aliyah dan kelas VI Ibtidaiyah dari Madrasah lain. Lomba-lomba yang membangkitkan minat santri untuk lebih meningkatkan prestasi tersebut tidak pernah dilakukan oleh KUA di Kecamatan Batukliang sampai sekarang. Seharusnya Depag sebagai Lembaga Pembina Madrasah yang ada dibawahnya membuat terobosan seperti apa yang dilakukan tahun 1983 tersebut, tidak hanya di Kecamatan Batukliang tetapi juga di Kecamatan lain, dan merupakan hal yang wajar jika lembaga yang berada dibawah Depag sekarang kalah bersaing dengan lembaga – lembaga lain karena Depag bukannya mendorong pondok untuk maju, malah sebaliknya menekan. Semua Yayasan tidak boleh memakai azas Islam dengan alasan pada waktu itu mulai diberlakukan azas tunggal. Semua partai harus mempunyai satu azas yaitu Pancasila. Dan untuk memperkuat basis perjuangan, minat belajar masyarakat yang begitu besar di lembaga ini, pada tahun 1985 dibangunlah gedung permanent tambahan berukuran 60 x 8 m. Tahun 1986 dibuka Madrasah Aliyah dengan kelas pertama sebanyak 2 kelas dan setiap tahunnya bertambah 3 atau 4 kelas serta dengan tingkat kelulusan 95-100%. Intimidasi dalam bentuk lemparan masih terus berlanjut, gangguan terhadap santri semakin meningkat, kerbung banyak yang dibongkar dan dirusak dan santri juga diancam oleh orang-orang yang tidak dikenal. Sungguh perlakuan yang sangat tidak manusiawi, perlakuan seperti ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa seperti binatang. Mari kita bayangkan jika anak cucu kita, dengan niat yang baik menuntut ilmu tetapi dihalangi karena tempat mereka menuntut ilmu.
Awal tahun 1987 Pondok Pesantren Uswatun Hasanah mendapatkan sumbangan sarana air bersih oleh Pemda Tk. I Nusa Tenggara Barat dan aneh juga sumbangan yang sudah diberikan dicabut kembali pada tahun 1991, pencabutan ini dilakukan secara paksa tanpa adanya SK (Surat Keputusan). Pada tahun ini pula dibangun lagi gedung permanent tambahan seluas 104 x 8 m2 yang sekarang ditempati Madrasah Ibtidaiyah dan Mu'allimin. Bangunan ini sebanyak 14 ruang belajar dan berada disebelah barat.
Pada tahun 1989 santri yang belajar lebih dari 1000 santri dengan kelas gemuk (Untuk Tsanawiyah dengan kelas parallel 24 kelas, Aliyah 12 kelas dan MI 6 kelas), dapat dibayangkan seperti apa suasana belajar dengan jumlah santri per ruang belajar yang lebih dari 40 orang, karena kekurangan ruang kelas maka digunakan masjid sebagai ruang belajar yang dibagi dalam sekat-sekat kelas. Pada tahun ini juga bersama salah seorang Dekan IAIN Sunan Ampel Mataram (STAIN Mataram sekarang) yang pada waktu itu dijabat oleh DRS. H. SAIFUL MUSLIM mendirikan STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah) dengan jumlah mahasiswa angkatan pertama sebanyak 107 orang, tapi tidak mendapat ijin dari KOPERTAIS. Karena tidak ada ijin operasional akhirnya diubah menjadi Ilmu Hukum yang berfilial dengan Universitas Islam Al-Azhar Mataram (UNIZAR). Dari 107 orang mahasiswa tersebut yang berhasil menyelesaikan dan mendapat gelar kesarjanaan sebanyak 67 orang.
Tahun 1990 dibangun gedung sebanyak 7 lokal yang direncanakan untuk bangunan tingat tiga dan saat ini digunakan untuk Madrasah Aliyah, SMA. Islam Uswatun Hasanah dan Program Pendidikan Agama Islam, PGSD, PGTK (Filial Sekolah Tinggi Agama Islam Qomarul Huda Bagu Pringgarata Lombok Tengah) yang semula direncanakan untuk pengembangan Perguruan Tinggi. Namun sampai saat ini karena kekurangan dana dan kekurangan yang lainnya, belum bisa dirampungkan.
Pada tahun 1991 adalah tahun emas bagi mereka yang anti Uswatun Hasanah, tahun ini merupakan usaha penangkapan yang ketiga dan berhasil karena pada saat itu, Orde Baru dengan seluruh hamba-hambanya tentu saja melalui proses perencanaan yang sangat panjang dan barang kali dengan membangun konspirasi-konspirasi dengan siapa saja yang anti Uswatun Hasanah, Pimpinan Pondok Pesantren berhasil mereka jebloskan ke penjara. Kabar yang berhembus dari timur, bahwa pimpinan pondok adalah penyebar ajaran syetan, amoral dan separatis Negara (kontra Negara). Padahal semua itu bohong, semua itu palsu dan dibuat-buat, akan tetapi Allah Sang Maha Kreatif, Yang Maha Menyutradarai kehidupan manusia memang telah melukiskan scenario seperti itu. Beliau memang harus masuk penjara tanpa bukti bahwa beliau bersalah.
Dalam ruang sempit dan pengap itu beliau dengan sabar melalui masa-masa persidangan yang sangat melelahkan dan menyakitkan. Bagi jamaah Uswatun Hasanah, saat itu sangat menyakitkan dan menggelisahkan karena minhum-minhum itu terlampau lancang mencaci maki, melempar dan mengeluarkan ejekan-ejekan kotor terhadapnya.
Maka pada tanggal 7 Juni 1991 dijatuhkan vonis 10 tahun penjara (+7 bulan di Rutan Praya, +6 tahun di Lembaga Pemasyarakatan Mataram dan +6 bulan di Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Tojong-Ojong Desa Aik Dareq Kecamatan Batukliang Lombok Tengah). Keputusan pengadilan atas beliau ini disambut dengan isak tangis pilu dari seluruh jamaah Uswatun Hasanah dan beliau. Alhamdulillah Allah melindungi jiwa dan raga beliau, tidak seperti yang dikabarkan oleh media massa pada saat itu.
Selama beliau ditahan aktivitas belajar mengajar di Pondok Pesantren Uswatun Hasanah yang beliau dirikan terus berlangsung, demikian juga halnya dengan aktivitas pengajian beliau. Santri yang belajarpun tidak mengalami kemunduran baik dari segi kwalitas maupun kwantitas, hal ini dapat dilihat dari jumlah santri yang tetap stagnan. Sedangkan kepengurusan Yayasan Pondok Pesantren dan Kepala Madrasah Aliyah dilimpahkan kepada kakak beliau (Lalu Abdul Muhith Ibrohim), sedangkan aktivitas pengajian beliau dilanjutkan oleh Ust. Lalu Ahmad Jalaluddin, Lalu Abdul Hannan dan TGH. Husni Al Anshori. Meskipun beliau dalam penjara, beliau tidak patah semangat. Beliau terus melanjutkan perjuangan dengan memberikan pendidikan agama kepada para tahanan lain. Disamping itu juga beliau diserahi untuk mengurus masjid penjara, mendirikan madrasah diniyah, mengadakan cerdas cermat agama dan MTQ. Diskusi beliau lakukan juga dengan napi lain walaupun tidak seagama. Napi-napi yang beragama katolik, protestan, hindu, budhapun senang berdiskusi dengan beliau. Alhasil 16 orang napi diluar agama Islam, dihadapan beliau berikrar dan masuk memeluk agama Islam. Kreatifitas beliau dalam menulis buku beliau lanjutkan kembali. Dan selama beliau ditahan telah berhasil merampungkan 37 judul buku. Buku-buku yang berhasil beliau selesaikan antara lain "Tafsir Fathihah, Tata Bahasa Arab Lengkap, Ilmu Balagha, Ilmu Mantiq atau Logika, Dasar-Dasar Filsafat, Antropologi, Methafisika, Pandangan Science terhadap Islam I dan II, Riwayat Nabi Yusuf, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan lain-lain, genetika dalam Pandangan Islam dan masih banyak lagi judul-judul buku yang lainnya. Periode tahun 1998 sampai tahun 2005. Tahun 1998 beliau bebas setelah ditahan selama lebih dari 7 tahun. Beliau kembali ketengah jamaah Uswatun Hasanah tetapi banyak pekerjaan yang sudah menanti beliau dan harus diselesaikan. Aktivitas beliau dalam memberikan pengajian beliau lanjutkan kembali sejak dalam LP Terbuka Tojong Ojong. Kepala LP ikut ngaji pada beliau bahkan jumlah panitia pengajianpun semakin banyak. Tetapi beliau tidak pernah mengeluh bahkan kebiasaan beliau dalam melayani masyarakat semakin meningkat, jamaahpun semakin bertambah dan waktu istirahat bagi beliau semakin sempit.
Yang selalu ditunggu-tunggu oleh para santri adalah siraman Rohani setiap pagi sebelum para santri masuk kedalam kelas bahkan beliau berusaha harus dapat berjamaah dengan santri setiap hari. Siraman rohani yang beliau berikan setiap pagi ternyata memberikan dampak yang sangat luar biasa bagi santri khususnya pada ESQ (Emotional Spirit Quantum). Beliau berprinsip bahwa santri-santri ini dititip oleh orang tuanya dan tetap menjadi tanggung jawab beliau sebagai pemimpin/pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Uswatun Hasanah.
Pola yang dilaksanakan beliau tidak pernah membuat jarak antara beliau dengan karyawan (Guru, TU, santri dan yang lain). Siapapun beliau layani dengan ikhlas, tua maupun muda bahkan anak kecilpun beliau layani dengan senang hati. Beliau selalu memberikan dorongan dan semangat kepada para santri. Antara lain beliau sampaikan pada para santri: "Kalian tidak ada yang bodoh. Semua punya bakat. Tetapi mungkin, bidang yang dikuasai itu berbeda-beda. Mungkin dalam satu bidang study dia kurang, tetapi dalam bidang lain dia menonjol. Yang jelas semua, semua punya bakat. Yang bakat dalam semua bidang mungkin agak jarang kita jumpai.
Beliau sering memberi contoh dengan Napoleon Bona Parte dari Prancis. Waktu dalam pendidikan dia ranking 48. tetapi setelah selesai dari pendidikan beliau menjadi pemimpin Eropah yang mendapat julukan Singa Eropah. Begitu pula Thomas Alva Edison dari Amerika. Di sekolah dia lemah, ternyata dia punya bakat cemerlang sebagai pencipta lampu pijar dan terkenal keseluruh dunia".
Dari dorongan-dorongan itu ternyata santri-santri menjadi bersemangat. Begitu dekatnya beliau dengan santrinya. Hal ini membuat setiap orang merasa betah bahkan enggan untuk meninggalkan lembaga yang beliau pimpin.
Aktivitas santri Uswatun Hasanah juga sangat padat, mulai dari pukul 07.00 Wita santri harus sudah baris dan berdo'a untuk siap-siap menerima santapan rohani kemudian mereka masuk belajar secara formal sampai pukul 13.00 wita. Pukul 14.30 wita santri harus mulai melaksanakan aktivitas diniyah sampai pukul 16.00 wita dan dilanjutkan dengan sholat berjamaah. Selepas sholat magrib santri-santri tersebut mulai masuk kelas Diniyah lagi sampai sekitar pukul 21.00 wita dengan system Tutor Sebaya. Beliau juga memberikan pelajaran Diniyah bagi para santri kelas 3 Madrasah Aliyah dan santri Kulliatul Mu'allimin (aktivitas beliau dimulai setelah selesai sholat subuh dengan mengajar Diniyah bagi siswa Madrasah Aliyah sampai pukul 06.30 wita, kemudian dilanjutkan oleh Mahasiswa Kulliyatul Mu'allimin sampai pukul 07.15 wita dan memberikan santapan rohani bagi semua santri dari Pukul 07.15-07.30 wita, setelah itu beliau masuk kelas memberikan pelajaran (Fiqh khusus kelas 3 Madrasah Aliyah) sampai pukul 09.00 wita. Pukul 09.30 wita beliau berangkat memberikan pengajian di lebih dari 2 tempat dan pulang pukul 17.00 Wita (khusus pada hari Selasa dan Kamis beliau memberikan kuliah pada Mahasiswa STAIIQH, mata kuliah yang beliau pegang adalah Akhlaq dan Bahasa Arab). Aktivitas santri dilanjutkan kembali setelah selesai sholat subuh berjamaah dengan pelajaran Diniyah sampai sekitar pukul 06.15 wita. Disamping hal tersebut beliau juga mengharuskan santri secaa bergiliran pada hari Kamis sebelum beliau memberikan pengajian untuk tampil ceramah didepan jamaah. Hal ini bertujuan untuk melatih mental santri supaya tidak kaku dalam menghadapi jamaah, atau sebagai latihan supaya mereka tidak kaku nantinya ketika diberikan tugas sebagai petugas dalam Jum'atan dikampung halamannya masing-masing. Aktivitas beliau sangat padat. Panitia Pengajian yang berjumlah 72 Panitia berkembang lagi menjadi 107 Panitia disekitar pulau Lombok. Sedangkan diluar pulau Lombok pengajian-pengajian ada di Kecamatan Malkat Desa Naganiru Kedindi Kabupaten Dompu dan lain-lain, disamping itu juga pengajian beliau ada di Luwu Utara Propinsi Sulawesi Selatan. Setiap harinya beliau harus mengisi pengajian di lebih dari 2 tempat. Walaupun dengan kesibukan seperti ini beliau masih dapat meluangkan waktu beliau untuk memberikan pelajaran Ilmu Fiqh di kelas 3 Madrasah Aliyah. Ini merupakan bentuk cinta dan tanggung jawab beliau pada wali santri.
Dari tahun ke tahun jumlah santri yang belajar di Pondok Pesantren Uswatun Hasanah tidak pernah kurang dari 500 orang santri mulai dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah sampai Kulliyatul Mu'allimin. Bahkan sekarang tahun 2007 jumlah santri yang belajar di Yayasan Pondok Pesantren Uswatun Hasanah lebih 1240 santriwan dan santriwati (termasuk Mahasiswa STAIIQH).
Dengan semakin berkembangnya jumlah santri yang belajar dari tahun ke tahun, maka gedung luar yang belum rampung terpaksa dipakai sebagai ruang belajar. Dan aktivitas pembangunan gedung tersebut terus dilanjutkan meskipun tersendat-sendat. Apa lagi tuntutan masyarakat yang semakin tinggi pada lembaga yayasan Pondok Pesantren Uswatun Hasanah untuk menyediakan suatu Lembaga Pendidikan yang terjangkau oleh masyarakat golongan ekonomi lemah. Atas dasar tuntutan masyarakat itulah Pimpinan Pondok Pesantren Uswatun Hasanah membuka STAI (Program PAI, PGSD, PGTK ) yang berfilial di STAIQH Bagu. Jumlah santri yang belajar di lembaga Uswatun Hasanah dan semakin bertambahnya jumlah santri yang mondok tentunya memberikan tantangan yang luar biasa dalam penyediaan sarana dan prasarana khususnya air bersih. Beliau tidak tinggal diam dalam hal ini. Santri-santri yang tidak dapat minumpun beliau fikirkan. Dan atas kerja sama dengan Dinas Kimpraswil Propinsi Nusa Tenggara Barat, maka pada tahun 2004 mulai dibangun sarana air bersih dilingkungan Pondok Pesantren Uswatun Hasanah. Disamping hal tersebut diatas beliau juga membuka dan menghidupkan kembali madrasah-madrasah yang sudah tidak beroperasi seperti :
- Mengaktifkan kembali Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Diniyah Peresak Desa Pemepek Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah.
- Mengaktifkan kembali Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Diniyah Darul Athfal Ranjok Desa Teratak Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah.
- Mendirikan Madrasah Diniyah di Mertak Gawah Desa Penaban Kecamatan Praya Kabupaten Lombok Tengah.
- Mengaktifkan kembali Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Diniyah Dorombolo Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu NTB pada tahun 2003.
- Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Madrasah Diniyah di Kecamatan Papuro Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan tahun 2003.
- Pada tahun 2004 beliau membuka SMP. Islam, SMA Islam Uswatun Hasanah dan STAIQH (PAI, PGSD, dan PGTK filial STAIQH Qomarul Huda Bagu Desa Bagu Kecamatan Pringgarata Lombok Tengah ).
Khusus bidang politik. Lembaga yang beliau pimpin tidak terlibat dalam urusan politik dan santripun tidak terikat. Demikian juga halnya dengan para alumni Uswatun Hasanah. Bahkan alumni Uswatun Hasanah diberikan kebebasan oleh beliau untuk berpolitik dan semuanya direstui oleh beliau tanpa pernah memandang partai mana yang dipilih oleh alumni-alumni tersebut. Demikian gambaran singkat dan sejarah Yayasan Pondok Pesantren Uswatun Hasanah Cempaka Putih.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSaya adalah allumni uswatun hasanah angkatan ke3 ttp cinta smpai kpanpun tak pernah goyah sdikitpun dan oleh apapun ,harapan kami kepada pengelola yg sekarng dari stap paling bawah sampai pengurus tertinggi, silakan kelola dgn sebaik baiknya jgan smpai ada kami dngar dsas dsus ttng yysan yg ingin itu ini, itu smua kami faham tapi tolong jngan smpai permaslhan tingkat dalam kecium smpai keluar jika ada keslah fahaman silakan diselesaikan scara kkluargaan kalau mmang bnar2 kita mncintai org yg sama-sama kita muliakan yaitu Almagfurlah TGH.Ibrahim M.Thoyib, sekian komntar, smoga ada mnfaatnya demi kemajuan Ponpes Uswatun Hasanah yg sma2 kita cintai, hidup uswtun hasanah , maju trus jngan mundur oleh gesekan2 kecil maupun besar, amin ya rbbal alamin
BalasHapusSkenario sang maha pencipta(Allah SWT) yang sangat tiada duanya,sungguh luar biasa
BalasHapusAda yg familiƤr dengan nama Lalu Hidayat?dia nyantri jg
BalasHapusSemoga kita semua mendapatkan berkah ilmu yang kita dapatkan dari beliau
BalasHapusSemoga semua alumi uswatu hasanah memberikan cotoh2 yg baik sebagai mana yg telah di ajarkn. .
BalasHapus